Now Playing Tracks

Hari ini, 9 Juli 2014, kita menentukan siapa pemimpin Indonesia dan nasib seluruh bangsa Indonesia. Pilihan yg berat terhadap kedua kandidat, tapi kita harus memilih degan cerdas dan bijak kepada siapa kita menyerahkan kursi no. 1 di negeri ini untuk membawa Indonesia menuju bangsa yang hebat dan bermartabat. Semoga Allah selalu bersama mereka yang diberi amanah oleh seluruh rakyat Indonesia. Siapa pun presidennya, semoga bisa menjadi pemimpin yang baik dan mampu mengemban amanah ratusan juta rakyat Indonesia. Siapa pun presidennya, no. 1 atau no. 2, kita tetap satu nusa dan satu bangsa, semoga tidak terjadi perpecahan akibat perbedaan pendapat dalam pemilihan presiden 2014 ini. Pesta demokrasi untuk NKRI yang luar biasa. Salam damai Indonesia πŸ˜ƒπŸ‘†βœŒπŸ‘ŒπŸ‘

Biru

Tidak tampak, tapi dia melekat

Tidak berwujud, tapi dia ada di sudut

Ingin dilepas, dibuang, tapi dia tak bergeming

Ingin dinikmati, tapi jauh dari seiring

Mengering, mengerak

Tak ayal, tinggalkan jejak

Siapa yang tahu dia dirundung sembilu?

Bagiku dia tampak lugu

Ternyata dia bergelut dengan belenggu

Ingin kuraih jemarinya, dan kuletakkan di dadaku

Biar dia rasakan masih ada degup yang memburu

Ini untukmu

Biar kubantu kau berdamai dengan masa lalu

Hingga kau tapaki masa tuamu

Setidaknya itu yang ada di kepalaku

Lilin tidak akan bersedih ketika sepercik cahayanya terbagi. Dia akan tersenyum ketika percikannya mampu menyalakan lilin yang lain. Cahaya yang dimiliki bahkan tidak berkurang. Sebaliknya, cahaya dari lilin-lilin lain semakin semarak menerangi kegelapan. Meski umur lilin tidaklah panjang, dia tidak ragu membagi cahaya untuk kehidupan.

Angin mungkin tak selamanya bertiup kencang. Hujan mungkin tak selamanya menghujam deras. Tapi ketika angin dan hujan tak kunjung henti, pelangi pun tak kunjung tiba. Lantas kapan angin dan hujan akan berhenti? Bukannya tak suka hujan, hanya rindu indahnya pelangi dan hangatnya belai mentari.

Gunung

Bersentuhan dengan alam selalu menyenangkan, banyak pelajaran yang bisa kita ambil di setiap sudut indahnya. Keyakinan akan kemampuan menggapai puncak, menjadikan kita mampu dan terus berjuang mendaki gunung hinga menemukan diri kita berdiri di puncak, dan disuguhkan pemandangan indah hamparan hijau di kaki gunung. Letih ketika mendaki terbayarkan dengan panorama indah yang disuguhkan. Memanjakan mata dengan hijaunya rerumputan dan birunya langit. Memanjakan telinga dengan alunan daun dan ranting yang bergesekan ditiup angin. Memanjakan rongga dada dengan segarnya udara yang dihasilkan pemasok oksigen di dunia.

Tidak jauh berbeda ketika kita proyeksikan dengan kehidupan ini. Ketika kita dihadapkan dengan suatu persoalan, kita diberi pilihan untuk menghadapi atau menghindari. Ketika kita memilih untuk menghadapi, maka keyakinan untuk mendaki hingga puncak sangat diperlukan. Agar kita berhasil melalui tanjakan terjal, hingga mencapai puncak dan melihat indahnya hal-hal yang terbentang di balik tingginya gunung yang baru saja kita daki. Tetapi, ketika kita memilih untuk menghindari, kita tidak akan pernah melihat keindahan itu, melainkan hanya gunung besar yang menghalangi.

Sedikit bercerita, beberapa waktu lalu saya dan beberapa teman pergi camping di gunung dekat rumah. Ya karena memang belum bisa pergi ke gunung-gunung tersohor seperti Bromo atau Mahameru, dan deretan gunung keren lainnya. Pengalaman pertama memang, sangat lelah, tetapi terbayarkan dengan kepuasan ketika telah berhasil mendaki dan berada lebih dekat dengan langit bertabur bintang. Seperti choco chips di atas biskuit, rasanya sangat dekat untuk digapai, sungguh indah ciptaan Tuhan.

Fenomena yang tidak pernah tertinggal dalam suatu tempat wisata adalah jejak-jejak kehidupan manusia yang tercerminkan melalui sampah-sampah yang berserakan. Sampah makanan, minuman, plastik, kertas, dan sebagainya selalu saja turut menghiasi yang jelas-jelas sama sekali tidak memperindah. Heran juga kenapa oknum-oknum pembuang sampah sembarangan itu sama sekali tidak pernah merasa bersalah atas perbuatannya. Tentu saja tidak semua orang tidak sadar kebersihan, tapi memang tidak banyak. Senang sekali waktu turun dari gunung waktu itu ada sekelompok remaja –sepertinya anak-anak pecinta alam- yang dengan ringan tangan memunguti sampah di sepanjang jalan yang mereka lalui. Mereka jelas tidak dibayar, mereka melakukannya karena kecintaan mereka akan keindahan alam, dan merasa sangat sedih dan prihatin ketika indahnya alam dikotori dengan oknum-oknum yang tidak sopan membuang sampah-sampah mereka secara sembarang. Ternyata memang masih ada yang peduli pada bumi kita, alam kita, meski sedikit. Apakah kamu salah satunya?

Pernah dulu merasa tidur hanyalah membuang waktu berharga di dunia. Entah kenapa sekarang tidur menjadi pilihan utama. Banyak hal bermanfaat yg dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang, selain tidur tentu saja. Lagi pula saat tubuh terpisah dengan ruh, bukankan kita punya banyak waktu untuk tidur? Tidur cukuplah dengan kualitas, nikmatilah hidup di dunia yg hanya sekejap ini dengan hal-hal menyenangkan dan bermanfaat. Selamat tidur berkualitas πŸ˜šπŸ˜„πŸ˜ƒ

Benteng Pasir

Membangun istana pasir memang menyenangkan, hasilnya sudah pasti indah. Tak lupa selalu disertakan benteng kokoh sebagai pertahanan. Tapi bagaimana ketika benteng itu dibangun Β terlalu dekat dengan bibir pantai. Sedangkan benteng yang dibuat hanyalah dari pasir pantai yang tentu saja jika letaknya berdekatan dengan bibir pantai akan mudah hanyut dan hilang ketika ombak datang. Begitulah, ketika bentengnya luruh, maka mulai dibangun lagi, dan ketika kembali ombak menghampiri, maka kembali luruh dan hanyut, lenyap.

Kemudian benteng mulai dibangun dari jarak yang sedikit lebih jauh dari bibir pantai. Tapi ombak tak lantas membiarkannya begitu saja, kembali datang ombak yang lebih besar, dengan jangkauan yang lebih panjang. Hasilnya tentulah dapat dibayangkan, kembali Β luruh, hanyut, dan lenyap.

Maka mengapa kau bangun bentengmu dari pasir yang mudah hanyut oleh air ?

Bunga Pukul Empat

Kepakan sayap burung yang menari kembali terdengar, meski sayup-sayup dan timbul tenggelam. Pernah kusangkal itu bukanlah suara kupu-kupu, mungkin hanya ilusiku, tapi ternyata semakin ke sini semakin terdengar jelas. Bahakan aku mulai bisa melihat warna-warna indahnya. Kususuri jejak mereka yang menari kian kemari. Ada satu hamparan kecil rerumputan di sana yang mereka hampiri, rerumputan dengan bunga berwarna-warni. Aku duduk dan memandangi indahnya pemandangan sekelilingku, cantik.

Kuhirup nafas dalam, membiarkan rongga pernapasan terisi oleh udara segar, membiarkan mataku menikmati indahnya bunga berwarna-warni. Benar-benar menyenangkan. Senja oranye menambah cantik pemandangan sore itu, sang matahari perlahan menenggelamkan diri di ufuk barat untuk kemudian digantikan dengan remang rembulan. Saatnya aku pulang, walaupun tak ingin melepaskan. Mungkin besok aku bisa kembali lagi ke sini, menikmati semua yang ada di sini.

Mentari kembali menyapa dengan kelembutan sinarnya, bergegas aku bersiap untuk kembali ke taman kecil rahasiaku dengan hamparan rumput dan bunga-bunga indah. Dengan riang dan senyum yang mengembang, perlahan kutapaki jalan bebatuan hingga akhirnya sampailah di tempat tujuan. Tapi, betapa terkejut dan kecewa ketika melihat taman kecilku tak berwarna. Bunga-bunga tak berkembang, tak nampak mahkota keindahannya. Kenapa bunga-bunga ini tak bermekaran? Aku duduk dengan memandangi sekitar. Benar, memang ini tempatnya kemarin, tapi tak ditemukan bunga yang mekar satu pun. Enggan untuk kembali pulang akhirnya aku hanya duduk di taman itu, masih bertanya-tanya, akankah bunga-bunga di sini kembali bermekaran?

Matahari mulai meninggi, hingga akhirnya condong ke ufuk barat. Kemudian perlahan rerumputan di sekelilingku bergeliat, dan bunga-bunga kembali menampakkan mahkotanya dengan perlahan, mereka kembali bermekaran. Tentu saja aku bahagia dapat kembali menikmati pemandangan indah ini, cantik.

Mungkin taman ini memang hanya akan indah di sore hari, karena yang tumbuh ternyata adalah bunga pukul empat. Bunga yang mekar pukul empat sore, dan kembali kuncup ketika fajar menjelang. Taman kecil rahasia yang tidak bisa kunikmati keindahannya sepanjang waktu. Dia terkadang ada, tapi terkadang juga bisa tiada, lenyap entah kemana, hingga akhirnya kembali menampakkan wujudnya tanpa bisa diatur kapan waktunya. Dia akan datang sendiri sesuka hatinya, tanpa tau ada seseorang yang menantinya sejak fajar menyapa. Jika pun dia tau, mungkin dia tak akan bisa berbuat banyak, memang begitu siklusnya, siklus bunga pukul empat.

image

Rela menjadi yang ketiga untuk kemudian menjadi yang pertama?

Ada yang bertanya, β€œapakah ada yang rela dijadikan yang ketiga dan dijanjikan menjadi yang pertama?” jawabannya, β€œada”. Saya kenal dua orang yang pernah mengalami hal tersebut, berada di posisi tersebut. Ketika cintanya menawarkan dan menjanjikan itu, dia menerimanya, entah bodoh atau memang benar cinta. Tetapi cerita dua orang yang saya kenal itu berbeda. Yang satu, hubunganya berhasil, dan bertahan lama. Kemudian yang satu lagi, dia memang berhasil menjadi yang pertama, tetapi tidak bertahan lama, karena kemudian selalu ada orang kedua dan ketiga berikutnya.

Ingat yg pertama bukan berarti satu-satunya

Lalu apakah ada cinta yang seperti itu ? entah cinta atau ketamakan saja

We make Tumblr themes