Now Playing Tracks

Benteng Pasir

Membangun istana pasir memang menyenangkan, hasilnya sudah pasti indah. Tak lupa selalu disertakan benteng kokoh sebagai pertahanan. Tapi bagaimana ketika benteng itu dibangun  terlalu dekat dengan bibir pantai. Sedangkan benteng yang dibuat hanyalah dari pasir pantai yang tentu saja jika letaknya berdekatan dengan bibir pantai akan mudah hanyut dan hilang ketika ombak datang. Begitulah, ketika bentengnya luruh, maka mulai dibangun lagi, dan ketika kembali ombak menghampiri, maka kembali luruh dan hanyut, lenyap.

Kemudian benteng mulai dibangun dari jarak yang sedikit lebih jauh dari bibir pantai. Tapi ombak tak lantas membiarkannya begitu saja, kembali datang ombak yang lebih besar, dengan jangkauan yang lebih panjang. Hasilnya tentulah dapat dibayangkan, kembali  luruh, hanyut, dan lenyap.

Maka mengapa kau bangun bentengmu dari pasir yang mudah hanyut oleh air ?

Bunga Pukul Empat

Kepakan sayap burung yang menari kembali terdengar, meski sayup-sayup dan timbul tenggelam. Pernah kusangkal itu bukanlah suara kupu-kupu, mungkin hanya ilusiku, tapi ternyata semakin ke sini semakin terdengar jelas. Bahakan aku mulai bisa melihat warna-warna indahnya. Kususuri jejak mereka yang menari kian kemari. Ada satu hamparan kecil rerumputan di sana yang mereka hampiri, rerumputan dengan bunga berwarna-warni. Aku duduk dan memandangi indahnya pemandangan sekelilingku, cantik.

Kuhirup nafas dalam, membiarkan rongga pernapasan terisi oleh udara segar, membiarkan mataku menikmati indahnya bunga berwarna-warni. Benar-benar menyenangkan. Senja oranye menambah cantik pemandangan sore itu, sang matahari perlahan menenggelamkan diri di ufuk barat untuk kemudian digantikan dengan remang rembulan. Saatnya aku pulang, walaupun tak ingin melepaskan. Mungkin besok aku bisa kembali lagi ke sini, menikmati semua yang ada di sini.

Mentari kembali menyapa dengan kelembutan sinarnya, bergegas aku bersiap untuk kembali ke taman kecil rahasiaku dengan hamparan rumput dan bunga-bunga indah. Dengan riang dan senyum yang mengembang, perlahan kutapaki jalan bebatuan hingga akhirnya sampailah di tempat tujuan. Tapi, betapa terkejut dan kecewa ketika melihat taman kecilku tak berwarna. Bunga-bunga tak berkembang, tak nampak mahkota keindahannya. Kenapa bunga-bunga ini tak bermekaran? Aku duduk dengan memandangi sekitar. Benar, memang ini tempatnya kemarin, tapi tak ditemukan bunga yang mekar satu pun. Enggan untuk kembali pulang akhirnya aku hanya duduk di taman itu, masih bertanya-tanya, akankah bunga-bunga di sini kembali bermekaran?

Matahari mulai meninggi, hingga akhirnya condong ke ufuk barat. Kemudian perlahan rerumputan di sekelilingku bergeliat, dan bunga-bunga kembali menampakkan mahkotanya dengan perlahan, mereka kembali bermekaran. Tentu saja aku bahagia dapat kembali menikmati pemandangan indah ini, cantik.

Mungkin taman ini memang hanya akan indah di sore hari, karena yang tumbuh ternyata adalah bunga pukul empat. Bunga yang mekar pukul empat sore, dan kembali kuncup ketika fajar menjelang. Taman kecil rahasia yang tidak bisa kunikmati keindahannya sepanjang waktu. Dia terkadang ada, tapi terkadang juga bisa tiada, lenyap entah kemana, hingga akhirnya kembali menampakkan wujudnya tanpa bisa diatur kapan waktunya. Dia akan datang sendiri sesuka hatinya, tanpa tau ada seseorang yang menantinya sejak fajar menyapa. Jika pun dia tau, mungkin dia tak akan bisa berbuat banyak, memang begitu siklusnya, siklus bunga pukul empat.

image

Rela menjadi yang ketiga untuk kemudian menjadi yang pertama?

Ada yang bertanya, “apakah ada yang rela dijadikan yang ketiga dan dijanjikan menjadi yang pertama?” jawabannya, “ada”. Saya kenal dua orang yang pernah mengalami hal tersebut, berada di posisi tersebut. Ketika cintanya menawarkan dan menjanjikan itu, dia menerimanya, entah bodoh atau memang benar cinta. Tetapi cerita dua orang yang saya kenal itu berbeda. Yang satu, hubunganya berhasil, dan bertahan lama. Kemudian yang satu lagi, dia memang berhasil menjadi yang pertama, tetapi tidak bertahan lama, karena kemudian selalu ada orang kedua dan ketiga berikutnya.

Ingat yg pertama bukan berarti satu-satunya

Lalu apakah ada cinta yang seperti itu ? entah cinta atau ketamakan saja

Topengmu terlalu banyak, hingga tak jelas mana wajah aslimu

bibirmu pun semakin manis, entah hanya salut gula yang menyelimuti pahit

tak berani kumenilai, masa lalumu terlalu kental

ingin kutuang, kubuang, tapi mengalirpun sulit

mengendap, mengerak

sempat teraliri, tapi kemudian kembali mengering

ini subjektif, memang

di mata mereka kau mungkin mempesona

di mataku, jangan tanya bagaimana

Cerita dalam sebuah rahasia ?

Bunga tidak selalu mampu berkembang dengan baik. Ada kalanya datang angin yang merusak kelopaknya hingga berguguran, ada pula kalanya datang serangga yang merugikan dan bunga pun tak merekah sempurna.

Ada yang bilang mencintai orang yang tidak mencintaimu memang sakit, tetapi mencintai tanpa berani mengungkapkannya jauh lebih sakit. Apa namanya itu ? cinta dalam diam ? tentu saja, bagaimana dia bisa tau kalau kau hanya diam dan tidak menyatakannya ? entah apa yang membuat seseorang bertahan dalam situasi seperti itu.

Bahkan mungkin ada yang lebih parah, kau dan dia sama-sama menyukai, dan diantaranya tidak ada yang berani mengutarakan. Entah apa penyebabnya, yaa mungkin sang wanita menunggu, hanya saja menunggu pun terkadang melelahkan hingga akhirnya membuatnya menjauh. Lalu, mengapa sang pria tidak mengambil langkah apa pun ? apa yang ditakutkan dari kenyataan yang disuguhkan jika dia benar-benar menyatakan apa yang dia rasa ?

Pengalaman dengan kehilangan memang tidak menyenagkan, karena sesuatu yang asalnya tiada kemudian ada, maka akan kembali tiada. Setiap orang pasti punya background yang membentuknya hingga pribadi yang kini ada, tergantung dari bagaimana dia menyikapi segala sesuatunya tentunya.

Beranjak dan berjalan ke depan, hapus air mata dan cerita

Saatnya melupakan

Jam berhenti, di dua belas

Kuhabiskan gelas demi gelas

Membuang pahit, sisa yang manis

Sampai akhirnya kulupa

Dan kau percaya, tak ada yang lebih baik dari ini

Apanya yang bahagia

Takkan ada cerita dalam sebuah rahasia

Lupakan saja dan jangan pernah kau kembali di sini

Keringkan semua luka, pergilah saja

Berlarilah karena kau akan kulupakan

dengan atau tanpa hati

Tak mengerti kenapa begini

Satu saat tanpa emosi

Satu saat penuh emosi

Satu saat tanpa mengerti

Satu saat penuh arti

Hanya bulan yang menjadi saksi

Selalu bulan, walau tanpa bintang menaburi

Dingin yang menusuk tak menjadi arti

Hangat sikapmu menyelimuti

Tapi hanya satu kali, mungkin tak pakai hati

Kala itu sungguh berarti

Ingin rasanya terus menyusuri

Tapi selalu tak mengerti mana yang sejati

Satu saat dengan arti

Satu saat hanya ilusi

Perlukah Ujian Nasional ?

Ujian Nasional sejak dahulu telah menjadi suatu momok yang menakutkan bagi siswa dan siswi di Indonesia, baik itu pelajar tingkat atas, pertama, bahkan yang terbaru adalah tingkat dasar. Tidak sedikit pelajar yang terganggu psikologisnya karena tekanan yang diterima akibat ketakutan dan kekhawatiran yang berlebih terhadap Ujian Nasional. Kelulusan adalah nilai mutlak yang menjadi harga mati. Bagi yang tidak lulus, maka seolah-olah masa depannya pun akan terlihat suram. Hal ini menimbulkan momok bagi para pelajar. Mereka khawatir bagaimana jika tidak dapat melewati Ujian Nasional dengan baik, maka ini mengakibatkan banyak efek samping yang ditimbulkan

Kelulusan menjadi harga mati yang harus dibeli dengan CARA APA PUN.

Bukan rahasia lagi kalau setiap tahun selalu saja ada oknum-oknum yang menawarkan bantuan berupa bocoran soal dan kunci jawaban dengan berbagai harga yang mencapai jutaan rupiah. Tentu saja ini mengajarkan praktik kecurangan yang secara otomatis ditanamkan dan tumbuh di dalam jiwa-jiwa calon penerus bangsa ini. Hal yang sangat memprihatinkan, menanamkan jiwa curang dan ketidakjujuran pada penerus bangsa. Dimana kita tahu kualitas bangsa ini benar-benar telah menglami degradasi, terutama degradasi moral yang dapat kita lihat dari para pemimpin-pemimpin dan petinggi-petinggi di negri ini. Kita selalu menuntut adanya pemimpin dengan moral dan kualitas yang baik, tetapi diwaktu yang bersamaan kita malah menciptakan generasi-generasi penerus dengan modal moral yang dikikis oleh berbagai praktik kecurangan dan ketidakjujuran.

Pengadaan dana untuk keberlangsungan kegiatan Ujian Nasional yang mencapai ratusan miliar rupiah.

Bukan suatu yang mustahil terjadi kecurangan dalam pengadaan dana yang disinyalir menjadikan praktik korupsi bagi oknum-oknum terkait yang tidak bertanggung jawab. Pemborosan dan penggunaan uang rakyat yang sungguh merugikan dan hanya memperkaya sekelompok oknum tidak bertanggung jawab dan merugikan jutaan orang dan khususnya para pelajar. Contohnya saja Ujian Nasional  tahun 2013 ini yang sarat akan kesmrawutan dan kekisruhan mengenai pengadaan lembar soal dan lembar jawaban. Keterlambatan pencetakan lembar soal yang mengakibatkan UN  mengalami penundaan tentu saja menimbulkan keresahan bagi para peserta ujian. Mereka tentunya kecewa dan merasa diombang-ambingkan dengan ketidakpastian jadwal UN. Selain keterlambatan pencetakan soal ujian, peserta ujian juga dikecewakan dengan kualitas  LJK yang bisa dibilang “lebih buruk daripada kertas pembungkus nasi” sungguh memprihatinkan. Lembar jawaban yang sangat menentukan hasil ujian malah sangat tidak mendukung dan riskan akan keinvalidan dalam pembacaan jawaban di komputer.

Lalu kemana perginya dana yang begitu besar ? hanya menjadi kertas pembungkus nasi kah ?

Pemborosan ujian, Ujian Akhir Nasional dan Ujian Akhir Sekolah.

Pengadaan kegiatan ujian tentu saja memerlukan dana yang besar dalam pelaksanaannya. Adanya dua kali ujian menimbulkan pembengkakan dana yang dikeluarkan oleh negara dan pemerintah. Selain itu, peserta ujian juga harus melakukan dua macam persiapan yang mengakibatkan perpecahan fokus dan konsentrasi peserta ujian, serta persiapan  mental dan fisik untuk menghadapi serangkaian ujian yang melelahkan.

Muncul pertanyaan apa gunanya nilai Ujian Nasional kalau untuk masuk PT yang diinginkan pun harus melakukan test ?

Nilai UN seolah-olah tidak ada gunanya, hanya mengindikasikan kita dapat melewati UN dengan baik. Tetapi untuk masuk ke perguruan tinggi yang diinginkan pun mereka harus kembali menjalani serangkaian ujian. Dimana serangkaian ujian ini selalu diikuti dengan serangkaian pembelajaran ekstra di tempat-tempat lembaga pendidikan yang menyediakan pelatihan UMPTN. Tentu saja materi UMPTN tidak sama dengan materi UN, maka peserta pun harus belajar lagi.Lulus UN juga tidak menjamin peserta beserta berhasil melewati UMPTN. Jadi untuk apa ada Ujian Nasional?

Lalu untuk apasih diadakan Ujian Nasional ? toh itu hanya memberatkan para pelajar, dan tidak menjamin apa pun. Malah sepertinya ujian nasional menjadi suatu ladang bagi oknum-oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan praktik pengayaan diri sendiri.

Soal-soal Ujian Nasional sebenarnya memiliki pembagian tipe berdasarkan pembagian wilayah di Indonesia. Sehingga, dengan Ujian Nasional juga tidak didapatkan keseragaman kualitas lulusan di seluruh daerah di Indonesia. Bukan Ujian Nasional namanya, hanya saja pelaksanaannya yang serentak di tingkat nasional. Jadi, akan sama saja jika ujian akhir hanya dilaksanakan di lingkup sekolah. Lagipula, bukankah pihak sekolah yang tahu bagaimana kualitas dari siswa dan siswinya? Jika ingin menyamakan kualitas lulusan, maka bisa didasarkan pada kurikulum yang menjadi landasan pengajaran di sekolah. Jadi, masih perlukah Ujian Nasional ?

Kanvas

Aku punya sebuah kanvas, tentunya tidak putih bersih. banyak coretan-coretan berbagai bentuk berwarna-warni. setiap seniman selalu punya karakter dalam goresan kuasnya, dalam setiap polesan warnanya. warna panas, dingin, harmonis, monokromatis, kontras, netral, memiliki ceritanya masing-masing.

Setiap memandangi kanvasku, selalu banyak cerita bermunculan. cerita yang direfleksikan dari setiap goresan. tentu saja goresan-goresan dengan berbagai warna itu memiliki banyak penafsiran. seni memang tentang rasa, tidak ada rumus-rumus dan formula untuk mendapatkan nilai yang mutlak. 

Tentunya tidak hanya aku sendiri yang mewarnai kanvasku, tidak hanya satu dua tangan yang turut menari menorehkan jejak-jejak berwarna di atas kanvas itu, kanvas dengan berbagai warna dan cerita.

Ketika satu pintu tertutup, sesungguhnya ada satu pintu lain yang terbuka. Hanya saja terkadang kita terlalu lama menatap ke arah satu pintu yang tertutup itu tanpa menyadari ada satu pintu lain yang terbuka.

Satu langkah ke depan atau ke belakang

Tuhan mengirimkan seseorang kedalam kehidupan orang lain memang dengan tujuan tertentu. entah itu untuk hidup bersamanya, atau untuk mengajarkan sesuatu kepadanya, bahkan seseorang terkadang dikirim Tuhan untuk menyembuhkan luka. namun, ada kalanya ketika luka itu telah sembuh, maka habislah masa berlaku seseorang itu di dalam hidup seorang lainnya. mungkin kemudian Tuhan mengirimnya untuk menyembuhkan luka pada orang yang lainnya lagi.

Tetapi selalu ada pelajaran baru yang ditinggalkannya ketika dia pergi meninggalkanmu. hanya saja mungkin pelajaran ini baru dapat dilihat ketika kita selangkah lebih dekat, atau selangkah lebih jauh. terkadang memang sulit memandang sesuatu yang tepat berada di depan hidung kita, atau kita akan sulit memandang dengan jelas ketika kita berada di dalamnya. maka dari itu kita harus keluar, atau kita harus mundur satu langkah. begitu juga ketika kita memandang terlalu jauh, maka kita akan perlu maju satu langkah agar lebih dekat dan dapat mengamati dengan seksama.

Tuhan memang selalu memberikan sesuatu dengan sesuatu di dalamnya.

To Tumblr, Love Pixel Union